Minggu, 27 Februari 2011

PARIWISATA ING JOGJA

"PARIWISATA ING YOGYAKARTA" (6)
Yen ing edhisi sadurunge wis kaandharake fasilitas kang uwujud transportasi lan papan panginepan, ing edhisi iki bakal kaandharake fasilitas liyane, kayata restoran, cindera mata, oleh-oleh, lan sapanunggalane. Kabeh mau sumebar ing tlatah obyek wisata kang sumebar ing limang kabupaten.
Obyek wisata mono kudu komplit fasilitase. Amarga yen nganti gothang, bakal dadi panyacade para wisatawan sing padha ngadani wisata. Mungguhing para wisatawan mono adate ora mung ketarik karo obyek wisatane, transportasi, utawa papan panginepane thok, nanging uga kudu disengkuyung fasilitas liyane kayata kang wis kasebutake ing dhuwur. Para wisatawan mono uga butuh mangan sasuwene nekani obyek-obyek wisata. Bener sok ana para wisatawan sing padha nggawa sangu dhewe, iku yen mung sedhela. Yen kunjungane ing obyek wisata akeh lan sok nganti pirang-pirang dina, ora bisa yen mesthi nggawa sangu dhewe. Mulane dheweke butuh mangan uga. Kanggo ngilangi rasa luwe lan ngelak, para wisatawan bisa padha mangan lan ngombe ing papan-papan wisata. Rumah makan mau bisa tingkate sederhana nganti sing mewah. Regane uga werna-werna gumantung karo kandel tipise sangu sing digawa. Panganan sing ditawakake uga werna-werna, sing khas Jogja nganti tekan panganan manca, kayata sea food, masakan China, lan sapiturute.
Ora mung kuwi, ing punjering kutha uga akeh madeg restoran-restoran lan rumah makan. Ana sing siji manunggal karo hotel-hotel, lan ana sing madeg dhewe. Racake saben hotel ana restorane, khususe sing berbintang telu lan papat. Dene restoran sing madeg dhewe kayata "Restoran Ayam Goreng Nyonya Suharti", "Rumah Makan Numani ing dalan Parangtritis", Restoran Hegar ing dalan Solo", Restoran Sintawang ing dalan Magelang", Restoran Selera Kuring ing dalan HOS Cokroaminoto, lan liya-liyane.
Tlatah Jogja uga kondhang panganan khase. Saliyane panganan pokok kang awujud gudheg, saben kabupaten duwe ciri khas dhewe, kayata Kabupaten Bantul kondhang geplak lan adrem, Kabupaten Sleman kondhang salak, jadah tempe bacem Kaliurang, Kabupaten Kulon Progo kondhang geblek lan growol, Kabupaten Gunung Kidul kondhang thiwul lan sambel tempe lombok ijo, lan Kodya kondhang kipa, bakpia, lan yangko. Akeh papan-papan kang dodolan panganan khas iki, sumebar ing obyek wisata (Kaliurang, Parangtritis, lan Pesisir Baron), pasar-pasar (Pasar Beringharjo, Pasar Kranggan, lan Pasar Sentul), pusat pertokoan (Malioboro Mal, Galeria Mal, lan Ramai Mal) lan ing punjering kutha (dalan Solo lan dalan Malioboro).
Siji maneh sing dadi kondhange tlatah Jogja yaiku saka akehe pusat-pusat kerajinan sing sumebar ing limang kabupaten. Kayata Kotagede kondhang kerajinan perak, Dusun Kasongan Bantul kondhang kerajinan gerabah, Pajangan Bantul kondhang kerajinan kayu batik. Saliyane iku Bantul uga kondhang kerajinan keris, kulit, lan kayu glugu. Dene Kabupaten Sleman kondhang kerajinan fiber lan enceng gondhok. Kabupaten Kulon Progo kondhang kerajinan tenun, Kabupaten Gunung Kidul kondhang kerajinan watu, logam, lan kayu. Dene Kodya Jogja kondhang kerajinan batik lan perak.
(tamat)

CERITA
"PARIWISATA DI YOGYAKARTA" (6)
Jika pada edisi sebelumnya telah diuraikan fasilitas berupa transportasi dan penginapan, maka pada edisi ini akan diuraikan fasilitas lainnya, seperti restoran, cinderamata, oleh-oleh, dan sebagainya. Semua tersebar di tempat-tempat obyek wisata di lima kabupaten.
Obyek wisata idealnya harus lengkap fasilitasnya. Sebab jika sampai tidak lengkap, akan menjadi sindiran bagi para wisatawan yang berwisata. Sebenarnya para wisatawan itu tidak hanya melulu tertarik pada obyek wisata, transportasi dan penginapan saja, tetapi juga harus didukung fasilitas lainnya seperti yang telah disebutkan di atas. Sebenarnya para wisatawan juga membutuhkan makan selama mendatangi obyek-obyek wisata. Memang benar, kadang ada para wisatawan yang membawa bekal sendiri, namun itu dilakukan jika waktunya pendek. Jika kunjungan ke obyek wisata banyak dan butuh waktu beberapa hari, tidak mungkin kalau akan membawa bekal sendiri. Padahal dia juga membutuhkan makan. Untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga, para wisatawan dapat makan dan minum yang telah tersedia di tempat-tempat wisata. Rumah makan yang tersedia mulai dari yang sederhana sampai yang mewah. Tarifnya juga beraneka ragam tergantung dari sedikit banyaknya bekal yang dibawa. Makanan yang ditawarkan juga beraneka ragam, yang khas Jogja sampai makanan luar negeri, seperti sea foof, masakan China, dan sebagainya.
Tidak hanya itu, di pusat kota juga banyak terdapat restoran-restoran dan rumah makan. Ada yang menyatu dengan hotel-hotel, dan ada yang berdiri sendiri. Mayoritas setiap hotel memiliki restoran, khususnya yang berbintang tiga dan empat. Sedangkan restoran yang berdiri sendiri misalnya "Restoran Ayam Goreng Nyonya Suharti", "Rumah Makan Numani di jalan Parangtritis", Restoran Hegar di jalan Solo", Restoran Sintawang di jalan Magelang", Restoran Selera Kuring di jalan HOS Cokroaminoto, dan sebagainya.
Daerah Jogja juga terkenal dengan makanan khas. Selain makanan khas pokok berujud gudeg, setiap kabupaten mempunyai ciri khas masing-masing, seperti Kabupaten Bantul terkenal dengan geplak dan adrem, Kabupaten Sleman terkenal dengan salak, jadah tempe bacem Kaliurang, Kabupaten Kulon Progo terkenal dengan geblek lan growol, Kabupaten Gunung Kidul terkenal dengan tiwul dan sambel tempe lombok ijo, dan Kodya terkenal dengan kipa, bakpia, dan yangko. Banyak tempat yang berjualan makanan khas, tersebar di obyek wisata (Kaliurang, Parangtritis, dan Pantai Baron), pasar-pasar (Pasar Beringharjo, Pasar Kranggan, dan Pasar Sentul), pusat pertokoan (Malioboro Mal, Galeria Mal, dan Ramai Mal) dan di pusat kota (jalan Solo dan jalan Malioboro).
Satu lagi yang membuat wilayah Jogja menjadi terkenal yaitu banyaknya pusat kerajinan yang tersebar di lima kabupaten. Seperti Kotagede terkenal dengan kerajinan perak, Dusun Kasongan Bantul terkenal dengan kerajinan gerabah, Pajangan Bantul terkenal kerajinan kayu batik. Selain itu Bantul juga terkenal dengan kerajinan keris, kulit, dan kayu glugu. Kabupaten Sleman terkenal dengan kerajinan fiber dan enceng gondok. Kabupaten Kulon Progo terkenal dengan kerajinan tenun, Kabupaten Gunung Kidul terkenal dengan kerajinan batu, logam, dan kayu. Kodya Jogja terkenal dengan kerajinan batik dan perak.

KESENIAN JOGJA

Ada banyak kesenian tradisional di Jogjakarta atau Jawa. Berikut ini beberapa kesenian jawa tradisional Jawa, yang juga merupakan budaya Jawa.
WAYANG
Wayang dalam bentuk yang asli merupakan kreasi budaya orang Jawa yang berisi berbagai aspek kebudayaan Jawa. Wayang sudah ada jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu ke Indonesia. Pada jaman Neolitikum pertunjukan wayang awalnya terdiri atas upacara-upacara keagamaan yang berlangsung di malam hari untuk persembahan kepada “Hyang”. Pertunjukan wayang ceritanya menggambarkan jiwa kepahlawanan para nenek moyang yang ada dalam mitologi.
Pada masa sekarang pertunjukan wayang sudah sangat berbeda jika dibandingkan dengan pertunjukan yang sama dimasa lampau. Dahulu wayang digambarkan sesuai dengan wajah nenek moyang.
Orang Jawa gemar sekali menonton wayang karena ceritanya berisi pelajaran-pelajaran hidup yang sangat berguna yang dapat dijadikan pedoman dan tuntunan di dalam menjalani hidup di masyarakat. Berdasarkan cerita dan penyajian kira-kira ada 40 jenis wayang yang ada di Indonesia, diantaranya wayang beber, wayang klithik, wayang kulit, wayang krucil dan wayang thengul atau wayang golek. Pementasan wayang selalu diiringi dengan musik gamelan.
WAYANG KULIT
Wayang kulit biasanya dibuat dari kulit kerbau atau kulit lembu. Wayang kulit kini telah menjadi warisan budaya nasional dan sudah sangat terkenal di dunia sehingga banyak orang asing yang datang dan mempelajari seni perwayangan. Pertunjukan wayang kulit sampai saat ini tetap digemari sebagai tontonan yang menarik, biasanya disajikan semalam suntuk.
WAYANG WONG
Wayang Wong berarti wayang yang diperankan oleh manusia. Ceritanya juga hampir sama dengan cerita-cerita pada wayang kulit namun dalangnya disamping sebagai piƱata cerita tetapi juga sekaligus sebagai sutradara panggung.
WAYANG THENGUL / WAYANG GOLEK
Wayang Thengul/Wayang Golek adalah wayang berbentuk boneka dari kayu. ceritanya berasal dari kisah Menak. Orang suka menonton wayang ini karena gerakan-gerakan boneka kayu yang didandani persis manusia ini sangat mirip dengan gerakan orang.
WAYANG KLITHIK
Wayang ini dibuat dari kayu papan dan nama ini berasal dari suara klithik-klithik sewaktu dimainkan dan biasanya ceritanya adalah Damarwulan.
LANGEN MANDRA WANARA
Langen Mandra Wanara yang merupakan kombinasi antara berbagai jenis tarian, tembang, drama dan irama gamelan adalah salah satu bentuk kesenian tradisional Yogyakarta. Karakteristik tarian ini adalah para penarinya berdiri dengan lutut atau jengkeng sambil berdialog dan menyanyi ‘mocopat’. Cerita langen mandra wanara diambil dari kisah ramayana dengan lebih banyak menampilkan wanara/kera.
KETHOPRAK
Kethoprak adalah kesenian tradisional yang penyajiannya dalam bahasa Jawa ceritanya bermacam-macam berisi dialog tentang sejarah sampai cerita fantasi serta biasanya selalu didahului dengan tembang Jawa. Kostum dan dandanannya menyesuaikan dengan adegan dan jalan cerita serta selalu diiringi dengan irama gamelan dan keprak.
KARAWITAN
Musik gamelan tradisional Jawa yang dimainkan oleh sekelompok Wiyaga dan diiringi oleh nyayian dari Waranggono dan Wiraswara biasanya disebut ‘Uyon-uyon’, sedangkan kalau tanpa diiringi oleh nyayian dari Waranggono atau Wiraswara disebut ‘Soran’.
JATHILAN
Merupakan tarian yang penarinya menggunakan kuda kepang dan dilengkapi unsur magis. Tarian ini digelar dengan irinhgan beberapa jenis alat gamelan seperti Saron, kendang dan gong.
SENDRATARI RAMAYANA
Salah satu sendratari yang terkenal adalah sendratari Ramayana. Sendratari Ramayana mempunyai keistimewaaan tersendiri karena ceritanya mengisahkan antara pekerti yang baik (ditokohkan oleh Sri Rama dari negara Ayodyapala) melawan sifat jahat yang terjelma dalamdiri Rahwana (Maharaja angkara murka dari negara Alengka)
Sendaratari Ramayana dipentaskan di Panggung Terbuka Prambanan secara rutin pada bulan Meisampai Oktober, masing-masing dalam 4 (empat) episode yaitu :
Episode satu: Hilangnya Dewi Shinta
Episode dua:Hanoman Duta
Episode Ketiga:Kumbokarno Leno atau gugurnya Pahlawan Kumbokarno
Episode Keempat: Api suci
Apabila ingin menyaksikan ceritera Ramayana secara ringkas (full story), dapat menonton di Teater Tri Murti Prambanan pada setiap hari selasa, rabu, dan kamis. Alternatif lain bagi mereka yang ingin menonton Sendratari Ramayana di kota Yogyakarta, beberapa tempat yang menyajikan diantaranya di Jl. Brigjen Katamso (Pura Wisata dan Ndalem Pujokusuman)
TARI KREASI BARU
Seni Tari dan seni Karawitan Jawa berkembang terus dengan munculnya tata gerak tari (koreografi) dan iram-irama baru. Salah seorang perintis tari kreasi baru adalah seniman Bagong Kusudiarjo, padepokannya terletak di daerah Gunung Sempu, Kabupaten Bantul.

KEISTIMEWAHAN JOGJA

Menanti Utuhnya Keistimewaan Yogyakarta  

Vincent Hakim R.
30/12/2010 22:53
Liputan6.com, Jakarta: Seluruh lapisan masyarakat Ngayogyakarta Hadiningrat mungkin tak pernah bermimpi, bahwa tanah air mereka suatu ketika menjadi bagian dari negeri bernama Republik Indonesia.

Kawula Yogyakarta pun tak pernah menyangka apalagi memprotes Sinuwun Sri Sultan HB IX, saat Ngarso Dalem pada Rabu Kliwon, 5 September 1945, di awal musim penghujan itu menyatakan kerajaan dan rakyatnya mendukung seratus persen kemerdekaan Indonesia. Sekaligus menyatakan diri bergabung dengan Republik Indonesia. Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi daerah provinsi ke tiga setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah, yang menjadi bagian resmi dari negara berumur balita Indonesia pascaproklamasi kemerdekaan.

Pemerintahan baru Indonesia memberikan apresiasi yang amat tinggi atas segala sumbangsih Yogyakarta bagi republik. Termasuk di antaranya, pernah dijadikan sebagai Ibu Kota Republik Indonesia pada masa transisi politik, sejak Sabtu Pahing 5 Januari 1946. Apresiasi yang tulus itu diberikan pemerintahan pusat kepada rakyat Yogyakarta melalui Ngarso Dalem Sinuwun Sri Sultan HB IX yang merupakan junjungan dan panutan masyarakat. Tak hanya untuk urusan kepemimpinan dan perilaku, tapi juga panutan untuk kelangsungan tradisi dan budaya.

Bentuk apresiasi pemerintah pusat itu diwujudkan dalam bentuk Daerah Istimewa setingkat provinsi. Barulah, pada 1965 Yogyakarta dijadikan provinsi seperti provinsi lain di Indonesia.

Substansi keistimewaan Ngayogyakarta Hadiningrat itu, yang pertama mencakup Sejarah Pembentukan Pemerintahan DIY terkait dengan perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia sesuai UUD 1945, Pasal 18 dan Penjelasannya yang menjamin hak asal-usul suatu daerah sebagai daerah swapraja (zelfbestuurende landschaappen).

Tak hanya itu. Yang kedua, keistimewaan dalam hal Bentuk Pemerintahan DIY sebagai daerah setingkat provinsi yang terdiri dari penggabungan wilayah Kasultanan Nagari Ngayogyakarta dengan Praja Kadipaten Pakualaman dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai UU No. 3/1950.

Yang ketiga, keistimewaan Yogyakarta berkaitan dengan Kepala Pemerintahan DIY yang dijabat oleh Sultan & Adipati yang bertahta sesuai Piagam Kedudukan, 19 Agustus 1945, Maklumat HB IX & Paku Alam VIII tertanggal 5 September 1945 dan juga tertanggal 30 Oktober 1945. Kedudukan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana diatur oleh UU No.3, tahun 1950 sebagai lex spesialis tidak pernah diatur secara jelas, rinci, rigid dalam UU No. 5, tahun 1974; UU No.22 tahun 1999; UU No.32 tahun 2004 sebagai lex generalis sehingga menimbulkan implikasi yuridis setiap ada perubahan undang-undang yang mengatur tentang pemerintahan daerah dan juga kepala daerahnya.

                                                                                                    ***

Ada apa dengan Keistimewaan Ngayogyakarta Hadiningrat?
Tak banyak orang yang tahu ada angin politik apa sebenarnya, ketika seolah seperti tiba-tiba, keistimewaan Yogyakarta dibahas dalam sidang kabinet terbatas yang dipimpin langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jumat (26/11). Yakni poin tentang jabatan kepala daerah yang tak lagi secara otomatis, namun melalui pemilihan. Yogyakarta yang sedang dirundung bencana meletusnya Gunung Merapi pun seperti terhenyak dan 'membara'. Terlebih ketika SBY menyebut-nyebut sistem monarki yang tak cocok lagi diterapkan dalam frame kehidupan demokrasi.

Tepat sehari setelah Presiden SBY menyampaikan pernyataannya itu, Sabtu (27/11), Sri Sultan HB X pun menjawab. "Jika sekiranya saya dianggap pemerintah pusat menghambat proses penataan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), jabatan gubernur yang ada pada saya saat ini akan saya pertimbangkan kembali. Itu merupakan pernyataan politik saya. Silakan bagaimana mau menafsirkannya."

Sejak itulah, suhu politik di Ngayogyakarta Hadiningrat terasa kian menghangat. Para pemain sirkus politik di Jakarta juga ikut angkat bicara, seturut kepentingan kelompok masing-masing. Banyak pernyataan mereka yang tidak mencerminkan pemahaman pada persoalan pokok secara jernih. Tapi justru ikut memperkeruh suasana, sehingga membingungkan rakyat.

Perdebatan pun segera mengarah ke istilah monarki dengan segala tafsirannya. Sri Sultan HB X pun, tak tahu persis apa yang dimaksud dengan sistem monarki seperti yang disampaikan Presiden Yudhoyono.

"Saya tidak tahu sistem monarki yang disampaikan dan dimaksud pemerintah pusat, karena Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY itu sama dengan provinsi lain di Indonesia, seperti dalam organisasi, manajemen, perencanaan, dan pertanggungjawaban pemerintahan. Hal itu sesuai dengan konstitusi, baik UUD 1945 maupun peraturan pelaksanaannya. Semuanya sama dengan provinsi lain, tidak ada yang berbeda dengan yang lain."

"Saya juga tidak mengerti, mengapa disebut monarki. Apa karena sultan yang menjadi gubernur?"

                                                                                                    ***

Rakyat harus jadi subjek demokrasi. Yang paling berkompeten untuk menjalankan demokrasi adalah rakyat itu sendiri. Demikian pula yang terjadi di Yogyakarta, sehubungan dengan status keistimewaannya.

Sejak diembuskannya persoalan keistimewaan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh pemerintah pusat, masyarakat Yogyakarta seperti tak pernah berhenti berdemo. Puluhan ribu orang dari berbagai elemen masyarakat berkumpul di luar Gedung DPRD Yogyakarta, Senin (13/12). Massa gabungan mahasiswa, Paguyuban Lurah, Paguyuban Penata Rias, Paguyuban Pedagang, Paguyuban Kesenian, anak sekolah, dan berbagai elemen masyarakat lainnya berkumpul sejak pukul 11.00 WIB untuk menyuarakan aspirasi mereka mempertahankan keistimewaan Yogyakarta.

Sikap DPRD pun telah terlontar. Enam dari tujuh fraksi mendukung Gubernur sebagai keistimewaan Yogyakarta dan menolak wacana penyelenggaraan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur secara langsung. Hasil sidang paripurna ini juga akan disampaikan kepada DPR RI dan Presiden.

Menghadapi aksi rakyat Yogyakarta itu, Sri Sultan HB X menyarankan agar ada dialog publik yang didasari dengan ketulusan dan kejujuran, sehingga masyarakat dapat tetap menjadi subjek dalam demokrasi. Persoalan pemilihan atau penetapan kepala daerah di DIY itu merupakan ranah kepentingan rakyat. Jadi proses pemilihan atau penetapan kepala daerah di DIY itu tergantung rakyat karena yang menentukan mereka.

"Demokrasi jangan hanya dilihat sekadar pada aspek prosedural mengenai pemilihan atau penetapan saja," kata Sri Sultan.

Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Keistimewaan Yogyakarta kini sedang diolah di DPR. Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, yakin permasalahan RUU Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta itu akan selesai dengan baik dan segera bisa ditemukan solusinya agar demokrasi modern dapat dikawinkan dengan nilai sejarah.

                                                                                                      ***

Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung mengatakan, RUU Keistimewaan DIY dari pemerintah sudah diterima DPR, Kamis (16/12). Surat pengantar tentang RUU Keistimewaan DIY juga sudah diterima, maka pembahasan RUU tersebut akan digelar pada masa sidang DPR mendatang yang dimulai Jumat, 7 Januari 2011, setelah masa reses.

Kini rakyat Ngayogyakarta Hadiningrat menunggu. Apakah aspirasi mereka yang akan didengarkan dan diperjuangkan para Wakil Rakyat, ataukah sebaliknya kepentingan politis golongan yang lebih diperhitungkan.

Jumat, 25 Februari 2011

MAKALAH SEKATEN

PURWAKA

Masyarakat Ngayogyakarta menika masyarakat ingkang religius. Upacara ingkang dipuntindakaken utaminipun ingkang wonten sesambetanipun kaliyan sistem kepercayaan utawi religi. Wonten ing upacara tradisional menika, nggadhahi ancas kangge ngurmati, caos sukur, memuji, lan nyuwun keslametan dhumateng Gusti Ingkang Akarya Jagad..
Ritual, slametan utawi upacara tradhisional menika minangka pambudidayanipun manungsa kangge pados keslametan, ketentreman lan njagi lestantunipun kosmos. Slametan inggih manika upacara keagamaan ingkang paling umum ing donya lan mralambangaken kesatuan mistis lan sosial saking tiyang-tiyang ingkang mlebet ing sajroning upacara.
Masyarakat Ngayogyakarta, gadhah kapitadosan bilih ndherek mengeti dinten miyosipun Nabi Muhammad SAW, kita saged pikantuk ganjaran saking Gusti Ingkang Maha Agung. Dening para wali, lajeng dipuntindakaken upacara Sekaten lan Grebeg Maulud kangge mengeti dinten miyosipun Nabi Muhammad SAW saha minangka sarana dakwah. Tradhisi ingkang sampun dipuntindakaken wiwit Kerajaan Demak (abad kaping-16) menika dipunwontenaken setahun sepisan ing wulan Maulud., wulan kaping tiga ing tahun Jawi mapan wonten ing plataran utawi Alun-alun Lor Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Upacara Sekaten menika upacara ingkang wosipun kesenian Jawa-Islam saha dakwah dening Kraton Ngayogyakarta. Kesenian ingkang dipungelar antawisipun selawatan, samrohan, lan berjanjen ingkang dipuniringi gamelan, rebana, jedor, genjreng, lan terbang. Upacara menika dipunwontenaken satunggal minggu, dipunwiwiti medalipun gamelan saking Kratos badhe dipuntabuh wonten ing ngajeng Mesjid Agung. Upacara menika suci lan sakral, rumiyin masyarakat ingkang badhe mriksani, kedah masuh samparan lan maos kalimat syahadat kangge syaratipun. Ananging, sekmenika masyarakat cekap mbayar Rp 4000,- kangge mriksani pasar malem.
Upacara Sekaten lan Grebeg Maulud kawontenanipun sampun kawentar boten namung wonten ing tlatah Ngayogyakarta kemawon, ananging ugi sampun mrambah ing njawi Ngayogyakarta. Sanadyan sampun kawentar ananging masyarakat boten mangertos babagan asal sejarahipun Sekaten lan Grebeg Maulud, lan ugi wosing kasakralan upacara Sekaten lan Grebeg Maulud. Kahanan mekaten amargi modernisasi ingkang ugi ngewahi prosesi adhat saking Sekaten lan Grebeg Maulud. Sekaten sampun pikantuk ewah-ewahan miturut ombyaking jaman saha modernisasi. Wonten ewah-ewahan ingkang cetha sanget ing upacara Sekaten lan Grebeg Maulud. Sakmenika upacara boten malih minangka sarana dakwah agama Islam, ananging langkung dipunutamekakan promosi pariwisata lan niaga. Piranti upacara ugi dipunjembaraken, boten namung gamelan, ananging gabungan alat tradhisional lan modern. Bentuk upacara ingkang dipunwontenaken sanes kesenian Jawa-Islam, nanging pasar malem lan promosi niaga. Amargi ewah-ewahan menika, lajeng kathah ingkang boten ngertos sejarahipun Sekaten lan Grebeg Maulud.





SURASA

  1. Bibit kawitipun Sekaten lan Grebeg Maulud
Wonten ing tlatah Ngayogyakarta Hadiningrat, wonten upacara adhat ingkang dipunwastani Sekaten, ingkang dipun lajengaken upacara Grebeg Maulud. Tradhisi ingkang wonten wiwit jaman Kerajaan Demak (abad kaping-16) menika dipunwonteni setunggal taun sepisan ing wulan Maulud., wulan kaping tiga ing tahun Jawi, mapan wonten ing plataran utawi Alun-alun Lor Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Asalipun istilah Sekaten wonten mawarni-warni pamanggih. Wonten ingkang kagungan pamanggih bilih Sekaten asalipun saking tembung Sekati, inggih menika asma saking kalih perangkat pusaka Kraton ingkang arupi gamelan ingkang dipunsebat Kanjeng Kyai Sekati. Kanjeng Kyai Sekati dipuntabuh ing rakitan adicara pegetan Maulud Nabi Muhammad SAW.
Pamanggih sanesipun ngaturaken bilih Sekaten asalipun saking tembung suka lan ati, amargi tiyang-tiyang ingkang mengeti dinten Maulud menika kanthi raos sukur lan bungah wonten ing pahargyan pasar malem ing Alun-alun Lor.
Pamanggih sanes malih inggih menika bilih tembung Sekaten aslinipun saking tembung syahadataini, kalih ukara syahadat Islam, inggih menika syahadat taukhid (Asyhadu alla ila-ha-ilallah) ingkang nggadhahi arti “kula nyekseni bilih boten wonten pangeran kejawi Allah” lan syahadat rasul (Waasyhadu anna muhammadarrosululloh) ingkang tegesipun “kula nyekseni bilih Nabi Muhammad utusan Allah”. Ukara syahadat menika minangka pratanda ngrasuk agami Islam. Pramila Maulud Nabi dipunwastani Perayaan Syahadatain, lan dening lathi piyantun Jawi dados Sekaten.
Puncaking rangkaian upucara tradhisional Sekaten ing tanggal 12 Rabiulawal, sesarengan kaliyan dinten miosipun nabi Muhammad SAW, dipuntengeri kanthi upacara Grebeg. Grebeg menika upacara tradhisional bebungah saking Sultan kangge kawula. Wujudipun bebungah inggih menika paring enem gunungan jaler kaliyan estri. Gunungan menika minangka simbul bebungah ingkang dipunparingaken Sultan ingkang isinipun kabetahan pangan saben dintenipun. Kanthi gunungan dipunparingaken dumateng kawula menika, kangge mungkasi rangkaian upacara Sekaten.
Upacara Sekaten lan Grebeg Maulud ing Kraton Ngayogyakarta menika upacara tradhisional ingkang rutin dipuntindakaken, saengga narik kawigatosan pamirsa saking sedaya lapisan masyarakat. Para pamirsa saking dhaerah pundi kemawon dhateng Ngayogyakarta kepengin mriksani upacara Sekaten kan Grebeg. Boten namung wisatawan domestik ingkang kepingin mriksani lampahipun upacara, nanging wisatawan monco ugi rawuh kangge mriksani upacara menika.
Upacara Sekaten boten saged dipunpisah kaliyan upacara Grebeg Maulud minangka tradisi agami ingkang wiwit tanggal 5 dumugi 12 Rabiulawal.
Riwayat Sekaten lan Grebeg Maulud menika, rumuyin saking Kraton Demak. Raden Patah minangka raja ingkang sepisan. Raden Patah menika putra Prabu Brawijawa V saking ibu puteri Raja Campa ingkang asma Dworawati. Wiwit miyosipun Raden Patah dipunmomong kaliyan Arya Damar ing Palembang. Nalika sampun dewasa, Raden Patah tindak wonten Jawa badhe sowan keng rama, Prabu Brawijaya V. Nanging, nalika dumugi Gresik, Raden Patah pinanggih kaliyan raden Rahmat (Sunan Ampel) ingkang rikala semanten saweg ndadosaken pesantren minangka pusat siar agama Islam wonten Dusun Ampel, Gresik.
Lajeng Raden Patah ngangsu kawruh kaliyan Raden Rahmat kagem sinau agami Islam. Nalika sampun wasis lan kebak ilmunipun babagan siar agami Islam, Raden Patah dipundhawuhi tindak wonten ing Dusun Glagah Wangi, Demak. Kanthi dukungan wali sanga, Raden Patah kasil damel pesantren ing dusun menika, lan pesantren ing dusun menika, lan pesantren menika lajeng dados pesantren ingkang maju lan ageng pengaruhipun kangge masyarakat.
Amargi satunggaling prastawa, Raden Patah kepanggih kaliyan Raden Kusen (Adipati Terung), putra Adipati Sriwijaya. Lajeng Raden Patah lan Raden Kusen tindak wonten Majapahit lan Raden Patah dipuntampi kanthi sae, malah dipunrengkuh putra piyambak.
Lajeng Raden Patah dipun angkat dados adipati Kabupaten Bintara, Demak. Wonten ing Demak, Raden Patah mbangun masjid Agung ing taun Saka 1399 utawi taun 1477 Masehi. Mesjid menika minangka papan kagem ngibadah lan papan rembagan para wali.
Adhedasar pamanggih para wali ugi, wonten ing siar agami Islam dipuntetepaken saben taun nalika wulan Rabiulawal dipunwontenaken Sekaten. Ancasipun Sekaten inggih menika mengeti dinten miyosipun Nabi Muhammad SAW ugi kangge siar agami Islam. Wonten ing Pahargyan Sekaten menika, dipunsiaraken ugi wedharaken lan khutbah babagan Islam. Kangge langkung narik kawigatosan masyarakat, lajeng salaminipun upacara Sekaten dipuntabuh kalih gamelan, Nyai lan Kyai Sekati wonten ing kalih rancak, inggih menika Kanjeng Kyai Nogowilogo lan Kanjeng Kyai Guntur Madu. Gamelan Sekatan menika dipundamel kaliyan Sunan Giri ingkang ahli seni krawitan. Gamelan menika miturut sejarah inggih menika gamelan laras pelog ingkang sepisan dipundamel. Piranti ingkang kangge nuthuk dipundamel saking sungu lembu. Supados saged ngasilaken suwanten gamelan ingkang sae lan bening, gamelan kedah dipunthuthuk kanthi ancang-ancang sebathuk sakderengipun nuthuk.
Gendhing Sekaten menika awujud reroncen tembang gendhing ingkang dipunginakaken, arupi 16 warni gendhing anggitanipun para wali. Gendhing menika inggih menika Rambu pathet lima, Rangkung pathet lima, Lunggadhung pelog pathet lima, Atu-atur pathet nem, Andhong-andhong pathet lima, Rendheng pathet lima, Jaumi pathet lima, Gliyung pathet nem, Salatun pathet nem, Dhindhang Sabinah pathet nem, Muru Putih, Orang-aring pathet nem, Ngajatun pathet nem, Batem pathet nem, Supiatun pathet barang, lan Srundeng gosong pelog pathet barang.
Kanthi wontenipun gamelan menika, masyarakat sami dumugi kangge mriksani tetabuhan. Nalika masyarakat kempal ing plataran mejid, para wali paring pitutur babagan ajaran Islam. Lajeng tuwuh krenteg ing batos para pamirsa kangge ngrasuk agami Islam. Minangka tiket mlebet menawi badhe mriksani pasar malem ing pahargyan Sekaten, masyarakat kedah maos kalimat syahadat (ukara tandha mlebet agami Islam) ingkang wonten basa Arab dipunsebat “syahadatain” lan lajeng lathi Jawi nyebat menika dados Sekaten.
Sejarah saking Grabeg Maulud inggih menika, wekdal rumiyin para raja tansah nindakaken wilujengan nagari (selamatan kerajaan) saben taun sepisan. Wilujengan nagari menika dipun sebat rojowedo ingkang tegesipun kitab suci raja utawi kebecikan raja, asring ugi dipunsebat rojomedo (kewan kurban raja).
Ancasing upacara kurban inggih menika kangge keslametan raja, kraton, lan rakyat. Ing Kraton Mataram nalika jaman peprentahanipun Sultan Agung, upacara kurban menika ewah dados upacara Grebeg. Upacara Grabeg wujudipun medalaken gunungan minangka sajen. Upacara menika dipungayutaken kaliyan dinten lan kapitadosan agami Islam.
Pemanggih sanesipun nyebataken bilih upacara Grebeg mijil ing mangsa kasunanan Kartasura ingkang mlampah langkung saking separo abad (Irwan via Moertjipto 1996:22). Ing kasultanan Ngayogyakarta piyamabak, upacara Grebeg boten saged kapisahaken kaliyan madheging Kraton Ngayogyakarta taun 1755. Amargi jasanipun nglawan Walandi, Kanjeng Pangeran Haryo mangkubumi dipunangkat dados sultan kanthi gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalogo Ngabdurrahman Sayidin Panogomo Khalifatullah I. Sultan menika ingkang sepisan nindakaken upacara Grebeg ing Kraton Ngayogyakarta.
Makaten, lajeng upacara Grebeg ing pahargyan Sekaten tansah dipuntengeri kanthi medalipun hajad dalem arupi gunungan minangka kurban (sedekah) saking raja kangge kawulanipun.
Ing upacara Grebeg Maulud, Kraton Ngayogyakarta ngedalaken gangsal gunungan minangka sedekah utawi kucah dalem. Gangsal gunungan menika awujud gunungan lanang, gunungan wadon, gunungan dharat, gunungan pawuhan, gunungan gepak saha gunungan kutug/bromo. Gunungan menika minangka kurban saking raja ingkang sakbibaripun dipundongani lajeng dipunbagi kaliyan rakyatipun minangka berkah. Masyarakat rebutan kangge pikantuk berkah (ngalap berkah) menika ingkang dipunsebat upacara Grebeg amargi medalipun hajad dalem arupi gunungan dipungrebeg (dirayah utawi dipunrebut) dening masyarakat supados pikantuk berkah dalem (berkah saking raja).
Gunungan menika dipundamel saking mawarni-warni dhaharan kados puthu, tlapukan, rengginan, kacang gleyor, Lombok lan tigan sarta upil-upil. Dhaharan menika nggadhahi pralampita sinandi, kados ta kacang gleyor tansah dipungayutaken kaliyan kasuburan nggayuh gasang makmur, lombok ingkang nggadhahi sipat pedes tegesipun manungsa kadah sabar ngadhepi sadaya panyaruwe ingkang pedes, lan tigan minangka cikal-bakal ingkang tegesipun asal-usul manungsa.
Menawi dipunturut gunungan dipunwastani papan ingkang inggil. Amargi menika, masyarakat tansah rebutan gunungan kangge pados berkah saking raja, sebab masyarakat nggadahi pamanggih bilih kanthi pikantuk berkah saking raja, ugi pikantuk berkah saking Gusti Allah.

  1. Gunungan
Gunungan inggih menika salah satunggaling wujud sajen wilujengan ingkang khusus dipun damel kangge slametan kerajaan.
Wonten enem warni gunungan ingkang dipun ginakaken wonten ing Upacara Grebeg. Inggih menika:
  1. Gunungan Lanang
  2. Gunungan Gepak
  3. Gunungan Pawuhan
  4. Gunungan Dharat
  5. Gunungan Wadon
  6. Gunungan Kutug/ Bromo

  1. Gunungan Lanang
Wonten ing nginggilipun gunungan dipunsebat mustaka, lan dipuntencepi dhedaharan ingkang kadamel saking glepung ingkang dipunsebat badheran. Amargi wujudipun kados ulam badher. Badheran menika dipunrias ngangge gangsal kalung sekar mlathi lan wonten ing pucukipun dipunronce sekar kanthil. Wonten ing mustaka dipun pasang reroncen dhaharan bunder alit-alit ingkang dipunsebat bendul. Wonten ing ngandhapipun dipunpasang tigan asin. Wonten ing pucuking gleyor ingkang ngubengi gunungan wau dipun pasangi dhaharan arupi kalpika ingkang kadamel saking ketan ingkang dipun sebat kucu. Lan saben kucu dipungantungi dhaharan ingkang arupi segitiga alit ingkang dipun sebat upil-upil. Kejawi menika dipun ronce ugi lombok abrit lan dipunparingi tigan godhog sanga lan tigan asin sanga.
  1. Gunungan Gepak
Gunungan gepak inggih menika gunungan ingkang boten madeg piyambak ananging gunungan ingkang kadadosan saking 40 kranjang ingkang isinipun dhaharan alit-alit. Saben kranjang dipunisi gangsal warni dhaharan. Inggih menika abrit, biru, kuning, ijo lan cemeng. Ing nginggiling dharan menika wau dipunparingi woh-wohan.
  1. Gunungan Pawuhan
Gunungan menika sami kaliyan wujud gunungan wadon. Wonten ing puncakipun dipuntancepi gendera pethak. Ing ngandhapipun dipun tancepi biting saking pring ingkang dipun paringi bunderan alit cemeng ingkang kasebat picisan
  1. Gunungan Dharat
Wujudipun sami kaliyan gunungan wadon. Wonten ing nginggilipun dipun sebari dhaharan ingkang awujud lempeng cemeng lan wonten ing sakiwo tengenipun dipuntancepi dhaharan ketan ingkang awujud lathi ingkang dipunsebat ilat-ilatan.
  1. Gunungan Wadon
Wonten ing mustaka dipun sebari dhaharan ingkang awujud lempengan cemeng lan ing sakiwo tengenipun dipuntancepi dhaharan ingkang awujud godhong. Wonten sakiwo tengenipun dipun tancepi biting saking pring ingkang dipunparingi dhaharan awujud ali-ali lan dipun tutup dhaharan ketan awujud lintang lan awujud bunderan ingkang dipun sebat rengginan. Wonten sakiwo tengenipun dipun tancepi biting saking pring dipunparingi dhaharan ketan awujud persegi ingkang dipun sebat eblek.
  1. Gunungan kutug/bromo
Wujudipun sami kaliyan gunungan wadon, dipunparingi bolongan kangge papan anglo ingkang isinipun areng kangge bakar menyan. Pajangan gunungan kutug ingkang awujud warni-warni dhaharan sami kaliyan pajangan gunungan lanang lan gunungan wadon.

  1. Papan Kangge Upacara Grebeg
Sejatosipun reroncenipun upacara grebeg dipun pusataken wonten ing 2 panggenan. Inggih menika:
  1. Tratag Sitihinggil
  2. Kompleks Mesjid Agung
  1. Tratag Sitihinggil
Tratag Sitihinggil inggih menika bangunan wiyar ingkang awujud segi sekawan kanthi cagak inggil tanpa tembok ingkang dipundekaken ing Sitihinggil. Ing ngandhapipun dipundekaken 2 bangsal. Bangsal wonten ing ngajeng menika dipun wastani Bangsal Manguntur Tangkil. Bangsal wonten ing wingking dipun wastani Bangsal Witono.
  1. Kompleks Mesjid Agung
Wonten ing plataran ngajeng Mesjid Agung sisih ler kaliyan kidul dipun ginakaken kangge mirengaken gamelan Sekaten Kyai Guntur Madu lan Kyai Naga Wilaga.
Wonten ing ambang kori ngajeng Mesjid Agung dipunginakaken kangge upacara panampi sajen wilujengan kerajaan arupi sesajen gunungan lan sanesipun ingkang dipunwakili Kanjeng Kyai Penghulu kagem ngaturaken donga keslametan.
Wonten ing serambi Masjid Agung papan anggenipun Sultan ngleksanakaken upacara religius pasowanan Maulud. Upacara menika dipunlaksananaken saben tanggal 11 Mulud jam 20.00 ngantos jam 23.30. Kanthi adicara inti mirengaken riwayat Rasulullah. 




DUDUTAN
Upacara Sekaten lan Grebeg Maulud sampun wonten wiwit jaman Majapahit, lan dumugi sakmenika taksih dipunwontenakan. Sebab masyarakat Ngayogyakarta taksih setya lan teguh kaliyan adat lan naluri tradhisi ingkang sampun dipunwarisaken turun tumurun.
Riwayat Sekaten lan Grebeg Maulud menika rumiyin saking Kraton Demak kanthi Raden Patah minangka raja ingkang sepisan. Ancasipun Sekaten inggih menika mengeti dinten wiosipun Nabi Muhammad SAW ugi kangge siar agami Islam. Ing pahargyan Sekatan manika, dipun warisaken ugi wedharan lan khutbah babagan Islam. Kangge langkung narik kawigatosan masyarakat, lajeng salaminipun Upacara Sekaten ngangge tabuhan gamelan.
Minangka tiket mlebet menawi badhe mriksani pasar malem wonten ing pahargyan Sekaten, masyarakat kedah ngucap kalimat syahadat (ukara tandha ngrasuk agami Islam) ingkang wonten Basa Arab dipunsebat “syahadatain” lan lathi Jawi nyebat menika dados Sekaten.
Sejarah Grebeg Maulud inggih menika ing wekdal rumiyin para raja tansah nindakaken wilujengan nagari (slametan kerajaan) saben taun sepisan. Slametan kerajaan menika dipunsebat rojowodo ingkang tegesipun kitab suci raja utawi kabecikan raja, asring ugi dipun sebat rojomedo (kewan kurban raja). Pemanggih sanesipun nyebataken bilih Upacara Grebeg mijil ing mangsa kasunanan Kartasura ingkang mlampah langkung saking sepalih abad.

MALEM SEKATEN

Mendengar kata Sekaten bagi masyarakat Solo dan sekitarnya, sudah tidak asing lagi. Begitu juga denganku yang pernah tinggal di Solo selama enam tahun. Setiap tahun, pasti aku mendengar kebar-kabar mengenai Sekaten, baik itu melalui surat kabar atau hanya dari omongan-omongan kecil yang melintas di masyarakat.
Pasar Sekaten
Maleman Sekaten di Alun-alun Utara Keraton Surakarta
Namun, kabar-kabar itu layaknya sebuah angin lalu saja bagiku, karena belum pernah sekali pun aku datang ke Sekaten. Tidak tahu jelas apa sebabnya, mungkin karena dulu aku tidak pernah ada waktu untuk datang ke sana atau memang hanya diriku yang tidak pernah peduli dengan sebuah tradisi. Sungguh aku merasa bersalah apabila mengingatnya.
Permainan yang ada di Maleman Sekaten
Permainan yang ada di Maleman Sekaten
Enam tahun sudah biarlah berlalu, dan cukuplah untuk menjadi sebuah kenangan. Kali ini, aku tidak mau lagi mengulangi hal itu. Kesempatan telah datang, kuliah sedang libur semester, berarti tidak ada lagi alasan untuk tidak datang ke Sekaten. Walaupun sekarang belum masuk pada acara inti Sekaten, bagiku itu tidak masalah, karena pasti di sana ada pasar Sekaten-nya. Hitung-hitung juga untuk menebus kesalahan karena ketidakpedulianku dulu, maka berangkatlah aku dari Klaten ke Solo untuk datang menontonnya.
“Kiri, kiri, kiri,…yo kiri”, terdengar suara para penyedia jasa penitipan sepeda motor dari pinggir-pinggir jalan ketika aku sudah mulai memasuki jalan masuk menuju Alun-alun Utara Keraton Surakarta, mereka bermaksud untuk menawarkan jasa penitipannya. Begitu banyak di sini para penyedia jasa penitipan itu, namun aku tidak langsung menitipkan sepeda motorku di jasa penitipan yang berada paling depan, melainkan aku mencari tempat penitipan yang paling dekat dengan Alun-alun, supaya tidak berjalan kaki terlalu jauh.
Dari dalam kawasan Alun-alun terdengar suara-suara kemeriahan, membuatku tidak sabar lagi untuk masuk. Segera aku menitipkan sepeda motorku, kemudian langsung berjalan menuju Alun-alun. Sebuah tulisan ‘Wilujeng Rawuh, Maleman Sekaten 2010′ (Selamat Datang, Maleman Sekaten 2010) menyambut di pintu masuk. Maleman sekaten adalah acara yang menyerupai Pasar Malam, dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan di Alun-alun Utara Keraton Surakarta, dalam rangka memeriahkan acara Sekaten.
Setahun sekali acara ini diadakan, begitu juga dengan Sekaten. Sekaten yang berasal dari kata syahadatain adalah acara untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dimulai pada tanggal 5 sampai 12 Rabiul Awal atau dalam perhitungan Jawa jatuh pada tanggal 5 sampai 12 bulan Mulud. Sekaten di Solo diadakan oleh Keraton Surakarta,  pada tahun ini acara inti Sekaten yang berlangsung selama sepekan, dimulai pada Jum’at (19/2) sampai Jum’at (26/2), ditandai dengan dikeluarkannya gamelan  Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari ke serambi Masjid Agung Solo, dan diakhiri dengan Grebeg Mulud sebagai puncak acara.
Lapak-lapak pedagang
Lapak-lapak pedagang
Tidak hanya di Solo, Sekaten yang sudah merupakan tradisi yang sampai saat ini masih dilestarikan dan dipertahankan, secara bersamaan diadakan juga di Alun-Alun Utara Yogyakarta oleh pihak Keraton Yogyakarta. Begitu juga dengan acara yang diselenggarakan, di Solo maupun di Yogyakarta tidaklah banyak berbeda.
Aku datang pada sore hari, bersama temanku Mufti Al Umam. Walau masih sore, namun sudah ada beberapa wahana hiburan permainan yang dijalankan, dan beberapa yang lainnya masih dipersiapkan. Wahana permainan mendominasi setengah lebih bagian Alun-alun, dan sebagian yang lain diisi oleh para pedagang. Semua jenis wahana permainan yang biasanya ada di pasar-pasar malam ada di sini, begitu juga pedagang, dari pedagan makanan, mainan, buku, tas, sandal, sepatu, sampai pedagang korek api sekali pun juga ada.
Pedagang makanan
Pedagang makanan
Kerajinan tangan berbentuk Harimau, khas Sekaten
Kerajinan tangan berbentuk Harimau, khas Sekaten
Setelah sejenak berjalan berkeliling Alun-alun, sebuah mainan olahan kerajinan tangan berbentuk Harimau berwarna kuning ditata berjajar rapi memukau penglihatanku, dan disampingnya ada kerajinan tangan dengan bentuk serta warna lainnya. Mainan seperti itu merupakan  mainan khas Sekaten, terbuat dari tanah liat yang kemudian diwarnai.
Mainan kapal-kapalan yang ada di Maleman Sekaten
Mainan kapal-kapalan yang ada di Maleman Sekaten
Belum selesai aku berkeliling, di langit tampak awan mendung tebal seakan hujan akan segera turun. Tidak lama kemudian, ternyata benar, hujan pun datang. Aku sempat bingung mau berteduh di mana, untung saja aku segera teringat dengan Masjid Agung yang berada di sebelah Alun-alun, dengan segera aku menuju ke sana.
Memasuki gerbang halaman masjid, aku melihat di sekitarnya banyak pedagang yang menjual Endog Amal (telur asin) dan Kinang. Kinang adalah racikan daun sirih, gambir, tembakau dan kapur, yang nantinya akan dikunyah. Melihat itu, bagiku sudah tidak begitu kaget lagi, karena aku sudah sering mendapat cerita dari orang-orang tua mengenai hal itu. Selain Endog Amal dan Kinang, menurut cerita yang pernah aku dengar, biasanya ada juga penjual Pecut (cambuk) dan Sego Gurih (nasi uduk).
Endog Amal (Telur Asin)
Endog Amal (Telur Asin)
Kinang
Kinang
Ada sebuah kepercayaan unik yang mendasari banyaknya pedagang benda-benda itu. Endog Amal, apabila membelinya dimaksudkan agar orang tersebut suka beramal. Kinang, masyarakat percaya apabila me-nginang (mengunyah daun sirih, gambir, tembakau dan kapur) sambil mendengarkan gamelan yang ditabuh dari serambi masjid pada saat Sekaten, maka akan awet muda dan mendapatkan berkah. Pecut, makna di balik membelinya adalah diharapkan bisa menggiring nafsu supaya berjalan ke jalan yang benar, sebagaimana fungsi dari Pecut yang biasa dipakai untuk menggiring ternak agar berjalan sesuai jalannya. Sego Gurih, membeli dan memakannya sebagai tanda mensyukuri nikmat kehidupan dan segala sesuatunya, serta supaya kehidupan akan semakin nikmat seperti nikmatnya rasa makanan itu.
Selama hujan datang, aku berteduh di serambi Masjid Agung. Untung saja hujan tidak turun begitu lama, sehingga aku dapat segera melanjutkan berkeliling. Sebelum keluar dari halaman masjid, aku menyempatkan diri untuk mengobrol sejenak dengan salah satu pedagang yang menjual Endog Amal dan Kinang. Ibu Hartini namanya (55), perempuan yang sudah mulai masuk usia tua, namun walau begitu wajahnya masih tampak merona.
Ibu Hartini, penjual Endog Amal dan Kinang
Ibu Hartini, penjual Endog Amal dan Kinang
“Bu’, pripun, laris?” (Bu’, bagaimana, laris?), biasa, sebuah sapaan manis penghantar percakapan, aku ucapkan.
“Nggih ngeten niki Mas, lumayanlah” (ya kayak gini Mas, lumayanlah), jawabnya dengan karakter pengucapan bahasa Jawa khas Solo serta senyum manis keluar dari bibirnya.
“Sampun dhangu sadean wonten mriki?” (sudah lama berjualan di sini?), aku bertanya.
“Yen Kulo nembhe tigang tahun, tapi rencang-rencang kulo niki enten sing pun puluhan tahun” (kalau Saya baru tiga tahun, tapi teman-temanku ini ada yang sudah puluhan tahun), jawabnya.
“..yen nginang niku, manfaat nipun nopo Bu’?” (..kalau nginang itu, manfaatnya apa Bu’?), pertanyaan ini aku tanyakan untuk memastikan cerita yang pernah aku dengar.
“..kagem untu supoyo kiat” (untuk gigi supaya kuat), jawabnya singkat.
“Bileh saget marai dhowo umure niku pripun?” (kalau supaya panjang umurnya itu bagaimana?), aku kembali bertanya.
“Nggih enten sing percoyo ngeten niku..” (ya ada yang percaya seperti itu..), jawabnya lagi.
Kemudian dia menambahinya “wah..bileh ten keraton jogja, sing nginang niku bethen wedhok mawon, tiyang lanang nggih nginang” (kalau di Keraton Jogja, yang nginang itu bukan hanya wanita saja, orang laki-laki juga nginang). Aku sempat kaget mendengarnya, karena sepengetahuanku sebelumnya hanya wanita yang me-nginang.
Obrolan yang lumayan panjang, cukup memberi tambahan wawasan untukku. Dari obrolan itu, aku jadi tahu kalau Kinang yang sudah dibungkus daun pisang dengan takaran satu porsi itu dijual dengan harga seribu rupiah. Sebenarnya harga yang relatif mahal, alasannya karena sekarang harga bunga yang diikut sertakan dalam satu porsian Kinang itu sedang naik, jadi mahal, begitu penjelasan dari Ibu Hartini.
Setelah selesai mengobrol, aku melanjutkan berkeliling pada bagian Alun-alun yang belum terjamah olehku. Lapak demi lapak pedagang dan wahana permainan telah aku lewati, nampaknya semua sisi telah terjamah. Aku tidak bermaksud sampai malam di sini, sehingga ketika petang menjelang, aku segera pulang, dan semoga tradisi Sekaten tidak akan pernah lekang oleh modernisasi yang menghadang.

Kamis, 24 Februari 2011

paSiNaon Jawa

Pasinaon Basa Jawa

Wawan Rembug
Ing salah sawijining jeron kelas SLTP ing kutha Salatiga krungu rembugane para siswa lan Bu Guru (kabeh jeneng sesinglon) sing arep padha nganakake darmawisata ing kutha Jogja. Kabeh nggunakake basa Jawa, Bu Guru nggunakake basa Ngoko dene para siswane nggunakake basa krama Inggil. Kepriye rembugane para siswa lan Bu Guru bisa kasimak ing ngisor iki.
  Bu Guru Kepriye bocah-bocah wis ana gambaran obyek wisata tujuan ing Jogja?
  Para siswa Sampun Bu.!! (bareng-bareng anggone mangsuli).
  Bu Guru Coba kowe Dewi, miturut panemumu apike menyang obyek ngendi?
  Dewi Miturut pemanggih kula, saenipun dhateng Museum kaliyan Kraton kemawon Bu!
  Agus Huh kuna Bu pemanggihipun Dewi, boseni. Saenipun dhateng pesisir Parangtritis kemawon, kathah sambenipun.
  Bu Guru Huss Agus, Ibu durung takon marang kowe! Rungokna dhisik panemune Dewi. Mengko kowe uga bisa usul.
  Dewi Amargi menawi dhateng Museum lan Kraton kathah manfaatipun ugi saged mangertosi jaman rumiyin.
  Bu Guru Ha a, apik usulmu, ing museum lan kraton bisa mangerteni kabudayan bangsa kita ing jaman biyen. Banjur kowe Agus, apa alesanmu.
  Agus Ingkang kula angge alesan, ing pesisir hawanipun semilir, asrep lan saged renang Bu!
  Bu Guru Oo ngono ta, dadi yen ing kene hawane kurang adhem lan ora bisa renang?! Kae kolam renang akeh. Ngertiya ya adus lan renang ing pesisir kuwi mbebayani banget. Bisa-bisa kerem lan ndrawasi.
  Ratih (Karo nyela-nyela) Menawi usul kula dhateng Malioboro kemawon Bu, saged blanja warni-warni.
  Agus Walah padune mung arep mejeng ta?!
  Ratih Eee sirik ta kowe!
  Bu Guru Uwis-uwis, gampang sesuk yen ana wektu longgar bisa mampir Malioboro kanggo blanja warna-warna
  Agus Lan saged mejeng nggih Bu.
  Bu Guru Ya kena Gus, yen kowe arep mejeng, dak golekke nggon ing Mall. Kepriye?
  Para siswa Ha.. ha.. ha.. (Padha ngguyu kemekelen).
Pacelathon kapedhot amarga krungu bel bubaran. Kaya ing pasinaon sadurunge, para netter utawa para maos disuwun kersa ngisi ukara sing durung rampung. Tembung-tembung sing kacithak kandel minangka pancingan kanggo ngisi. Sugeng ngisi!

Undha-usuking tembung ngoko - krama kaya sing digunakake ing dhuwur.

Tembung Ngoko
Krama
Krama Inggil
adem asrep asrep
mangerti
mangertos
mangertos
mangerteni
mangertosi
mangertosi
panemu pemanggih pemanggih
warna warni warni
warna-warna
warni-warni
warni-warni
wis sampun sampun


Dialog
Di salah satu ruang kelas SLTP di kota Salatiga terdengar pembicaraan siswa-siswi dan Bu Guru (semua nama samaran) yang akan mengadakan pariwisata ke kota Jogja. Semua menggunakan bahasa Jawa, Bu Guru menggunakan bahasa Ngoko sedangkan para siswa menggunakan bahasa krama Inggil. Bagaimana pembicaraan para siswa dan Bu Guru dapat disimak di bawah ini.
  Bu Guru Bagaimana anak-anak sudah ada gambaran obyek wisata tujuan ke Jogja?
  Para siswa Sudah Bu.!! (serentak menjawab).
  Bu Guru Coba kamu Dewi, menurut pendapatmu sebaiknya ke obyek mana?
  Dewi Menurut pendapat saya, sebaiknya ke museum dan kraton saja Bu!
  Agus Huh kuno Bu pendapat Dewi, membosankan. Sebaiknya ke Pantai Parangtritis saja, banyak selingannya.
  Bu Guru Huss Agus, Ibu belum bertanya kepadamu! Dengarkan dulu pendapat Dewi. Nanti kamu juga boleh usul.
  Dewi Sebab jika ke museum dan kraton banyak bermanfaat selain bisa mengetahui kebudayaan zaman dahulu.
  Bu Guru Iya, bagus usulmu, di museum dan kraton dapat mengetahui kebudayaan bangsa kita di zaman dahulu. Kemudian kamu Agus, apa alasanmu.
  Agus Alasan saya, di pantai udaranya sayup-sayup, dingin, dan dapat renang Bu!
  Bu Guru Oo begitu to, jadi kalau di sini udaranya kurang dingin dan tidak bisa renang?! Itu kolam renang banyak. Ketahuilah jika mandi dan berenang di pantai itu sangat berbahaya. Bisa-bisa tenggelam dan mengerikan.
  Ratih (Sambil menyela) Kalau usul saya ke Malioboro saja Bu, dapat belanja macam-macam.
  Agus Walah inginnya hanya akan mejeng to?!
  Ratih Eee sirik ya kamu!
  Bu Guru Sudah-sudah, mudah besuk jika ada waktu longgar dapat singgah ke Malioboro untuk belanja macam-macam
  Agus Dan bisa mejeng ya Bu.
  Bu Guru Ya boleh Gus, jika kamu akan mejeng, saya carikan tempat di Mall. Bagaimana?
  Para siswa Ha.. ha.. ha.. (Semua tertawa terbahak-bahak).
Dialog diputus sebab terdengar lonceng usai pelajaran. Seperti pada pembelajaran sebelumnya, para netter atau pembaca dimohon untuk berkenan mengisi kalimat yang belum selesai. Kata-kata yang tercetak tebal sebagai pancingan untuk mengisi. Selamat mencoba!

Tingkatan tataran kata ragam ngoko - krama seperti yang dipakai di atas.


Tembung Ngoko
Krama
Krama Inggil
Indonesia
adem asrep asrep dingin
mangerti
mangertos
mangertos
tahu
mangerteni
mangertosi
mangertosi
mengetahui
panemu pemanggih pemanggih pendapat
warna warni warni warna, macam
warna-warna
warni-warni
warni-warni
beraneka ragam
wis sampun sampun sudah

Ichlasul Amal: Saya Tidak Menyesal Membandingkan Peristiwa Jogja dengan PKI

Kamis, 16 Desember 2010 , 08:16:00 WIB
Laporan: Zul Hidayat Siregar

ICHLASUL AMAL/IST
  
RMOL. Guru besar Ilmu Politik Universitas Gajah Mada, Ichlasul Amal, menerima banyak telepon dan pesan singkat dari masyarakat yang mempertanyakan pernyataannya soal demo ribuan masyarakat Jogjakarta Selasa lalu yang dimuat Rakyat Merdeka Online dengan judul, Mantan Rektor UGM Heran Kenapa Keraton Pakai Cara PKI.

"Saya dapat telepon dan SMS, saya ditanyai macam-macam, berapa banyak dapat proyek dari pemerintah, apa-apa," ujar Ichlasul kepada saat dihubungi Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 16/12).

Kepada orang yang menanyakan itu, Ichlasul Amal menegaskan, bahwa dirinya saat ini adalah seorang begawan yang sehari-hari mengajar di kampus. Jadi tidak punya proyek sama sekali. "Nggak ada yang kasih uang sama saya. Kalau ada yang kasih, ya mau juga," katanya sambil tertawa.

Dia sendiri tidak menyesalkan atas apa yang ia sampaikan itu. Karena dia mengatakan itu berdasarkan dari pengalamannya pada masa Partai Komunis Indonesia dulu, saat dia masih duduk di bangku kuliah. "Itu Cuman pengalaman saya, yang membuat fait accompli itu yang saya tidak setuju," tegas dia.

Namun, dia sedikit menyesalkan atas pembuatan judul dari dari berita tentang pernyataannya itu. Menurutnya, judul itu lah yang semakin membuat orang terasa tersakiti.

"Saya tidak menyesal. Tapi judulnya itu yang banyak menyakitkan orang, ha ha ha. Apalagi ditulis mantan Rektor UGM. Kalau mantan Ketua Dewan Pers nggak apa-apa," katanya lagi sambil sambil tertawa.

Sebelum diwawancarai pada Senin malam lalu, dia mengatakan sempat bertanya kenapa dirinya yang dipilih untuk mengomentari peristiwa itu. Dia akhirnya mau memberikan pendapat, setelah wartawan mengatakan, dia merupakan orang yang netral dalam masalah Jogjakarta.